Sebagian dari kita mungkin pernah menyesal setelah putus. Soalnya setelah dianalisa ulang, masalah kita dengan dia (skarang mantan) sebenernya nggak berat-berat amat. Hanya karena dulu terbawa emosi, bawaannya ingin cepet-cepet putus.
Daripada terlanjur menyesal, sebelum putus mungkin ada baiknya kita memilih ‘break’ dulu. Dengan ‘ambil nafas’ dan jaga jarak sementara waktu, pikiran akan lebih jernih, sehingga kita lebih bijak dalam menentukan arah hubungan selanjutnya.
Bila kita lagi mengalami kondisi seperti dibawah ini, break boleh dicoba tuh –daripada langsung putus dan menyesal belakangan hehhe
NGGAK GREGET LAGI
Di awal jadian, semua terasa indaaaah banget. Nggak ada hari kita lewati tanpa ‘interupsi’ dia –dibela-belain ketemu tiap hari dah. Tapi setelah lewat beberapa bulan, tiba-tiba rasa greget mulai hilang. Yang tadinya sering telepon karena kangen, sekarang seolah hanya kewajiban. Begitu juga urusan kencan. Kalau dulu selalu semangat 45, sekarang malah jadi rutinitas membosankan. Nggak bisa dipungkiri, kita mulai jenuh.
Kenapa break?
Berpisah sementara bisa membantu kita menyadari, rasa jenuh yang melanda tuh Cuma numpang lewat atau betul-betul sudah kronis dan nggak bisa diobati. Bisa jadi, kita jenuh karena terlalu sering menghabiskan waktu berdua.
Lanjut atau putus?
Hubungan bisa berjanjut jika selama break kita menyadari ada banyak hal yang (sebenarnya) bisa kita putuskan atau lakukan lebih baik dengan kehadirannya. Tapi jika yang terjadi justru sebaliknya, umur hubungan kita dan dia mungkin memang sudah kedaluwarsa dan harus berakhir.
MINIM KOMUNIKASI
Karena intensitas pertemuan yang sedikit, menjaga hubungan jarak jauh alias LDR (long distance relationship) memang lebih berat. Butuh kepercayaan plus kesetiaan untuk menjaga hubungan tetap mulus. Jika diawal jadian kita optimis hubungan bisa berhasil, belakangan malah pesimis. Apalagi intensitas berkomunikasi sudah enggak sesering dulu.
Kenapa break?
Hidup di dua lingkungan yang berbeda bikin kita dan dia tumbuh masing-masing ke arah yang berbeda. Nggak heran deh, yang dulunya ngobrol selalu nyambung, mendadak tulalit. Break diperlukan agar kita bisa berpikir ulang, kira-kira dia adalah sosok yang tepat dan masih bisa mengimbangi kita nggak ya?
Lanjut atau putus?
Merasa nggak kehilangan dia saat break? Wah tampaknya hubungan kita sudah nggak perlu dilanjutin lagi –Cuma berat di ongkos hehhehhe
Salah satu syarat hubungan sukses adalah adanya kebutuhan adanya kebutuhan terhadap kehadiran pasangan –entah ketemu langsung atau komunikasi via email dan telepon. Kalau memang udah nggak ada rasa, ngapain dipaksain?
GODAAN ‘PENDATANG BARU’
Hubungan kita dan dia memang nggak ada masalah. Tapi kita merasa seperti jalan ditempat dan nggak yakin apakah berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Ditambah lagi beberapa hari terakhir bayangan cowok cakep yang baru kita kenal, menari-nari terus dikepala hehheeh
Dia yang tadinya kelihatan sempurna mendadakbanyak ‘cacat’ dibandingkan dengan pendatang baru ini. Jangan-jangan kita aslinya lebih cocok sama yang bari ini nih :D
Kenapa break?
Tanpa bermaksud egois, sebenernya sah-sah aja melirik cowok lain –selama belom nikah yee.. jumlah cowok kan ada milyaran, knapa kita keukeuh sama satu orang yang padahal ada banyak perbedaan yang mungkin selama ini bikin susah klop.
Lanjut atau putus?
Jangan buru-buru pindah kelain hati meskipun gebetan baru terasa sreg luar dalam. Jatuh cinta kan suka bikin ‘buta’ mendadak :D
Coba dianalisa –kalo perlu bikin list kelebihan dan kekurangan gebetan baru. Kalo dari segala sisi, pacar kita masih ‘unggul’ nggak perlu pindah kelain hati. Keliatan kejem ya?
NGGAK KUNJUNG DILAMAR
Umur mendekati kepala 3, nggak heran kalau konsep pacaran kita lebih serius dan bukan buat main-main lagi. Pengennya sih, dia dateng kerumah buat ngelamar, apesnya dia malah belom kepikiran nikah. Bukannya nabung buat persiapan nikan, dia malah menghambur-hamburkan gajinya buat foya-foya. Gimana nggak sebal...
Kenapa break?
Dengan vakum sementara, kita memberi waktu ke diauntuk berfikir. Mudah-mudahan sih, dia cepet menyadari betapa berartinya kehadiran kita dan merasa kehilangan, sehingga langsung kepikiran melamar –biar nggak kehilangan kita lagi hehehe
Lanjut atau putus?
Jika setelak break, dia menunjukkan perubahan berarti (dan kita punya feeling dia mulai tertarik menapaki hubungan lebih serius) boleh deh dilanjutkan. Tapi bila sebaliknya, nggak usah ragu buat mengakhiri hubungan –daripada kita sirik setiap menerima undangan pernikahan temen...
DURASI DEAL
Saran nih, jangan break sebentar (baca: kurang dari seminggu). Dalam waktu singkat, biasanya bukan rasio yang bicara, melainkan emosi. Kangen yang kita rasakan, misalnya, bukan berarti karena kehilangan dirinya, tapi bisa jadi hanya karena kita telah terbiasa atas kehadirannya, jadi seolah ada yang kurang. Ini sih kangan semu.
Jika intensitas komunikasi kita cukup sering (hampir setiap hari telepon dan ketemuan) setidaknya beri waktu break hingga dua minggu. Sementara bagi yang LDR dan jarang komunikasi, bisa break antara tiga-empat minggu. Setelah itu baru tentukan...
UNDANG-UNDANG BREAK
YES
- Nggak berusaha mengontak dia.
- Tetap beraktivitas seperti biasa.
- Minta opini jujur dari sahabat yang tahu banget tentang hubungan kita.
- Nggak menceritakan yang jelek-jelek tentang dia ke orang lain.
NO
- Sengaja mondar-mandir di sekitar tempat biasa dia nongkrong.
- Sebentar-sebentar ngintip ponsel, ngecek apakah dia sms atau missed calls.
- Mengumumkan ke semua orang kalau kita lagi break.
- Manas-manasin dia dengan mengapload foto kita dengan cowok lain di situs jejaring sosial.
KARTU MERAH
Kalau kondisi yang dihadapi seperti dibawah ini, nggak perlu break lagi---langsung PUTUS!!
- DIGANTUNG
Sudah sebulan lebih dia cuekin kita. Boro-boro ngapel dan antar-jemput, telepon atau sekedar SMS sudah nggak pernah. Sekalinya kita berinisiatif menghubungi, nada bicaranya terdengar malas-malasan –bahkan sering nggak diangkat!!
Asal tahu aja, teknik ‘raib ditelan bumi’ adalah strategi andalan cowok saat nggak tega ngajak cewek putus (berdasarkan penelitian penulis). Makanya, mereka sengaja menjauh agar kita bete. Nggak perlu pikir dua kali untuk berniat mutusin dia.
- SERING NGOMONGIN MANTAN
Lebih parah lagi : sering ngomongin mantan!! Pas kita protes, ngakunya mereka hanya berteman baik, tapi dia nggak mau mengenalkan kita sebagai pacar barunya ma mantannya itu dengan alasan nggak mau nyakitin mantannya.. ha—loo..
- KETAHUAN SELINGKUH
Meski sudah ketangkep basah, dia tetep nggak mau ngaku. Malah bersumpah pakai bawa-bawa nama Tuhan kalau dia nggak pernah selingkuh. Padahal dulu untuk bisa jadian ma kita, dia selingkuh dari mantannya. So anggep aja kita kena karma..



0 comments:
Post a Comment